Menjelang Malam

Pergatian itu pasti.

Gulita telah mengungkapkannya pada terang

Seperti dinginnya embun,

Yang tunduk pada secangkir asa.

Harapku mulai bersenyawa dengan dengan sejumput bayangan qodrat.

Yang tersirat sebelum ku menganalmu, rabb ku

Aku hidup karena mu..dan mati karena mu..

Fase akhir perjalanan, mulai terendus.

Harum, mungkin ini qodar yang kau taburkan, sesaat tua menggandeng kepastian itu.

Terima kasih.

Karya: Iyan*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.